Air Bekas Wudhu (Air Mustakmal), Apa Bisa Digunakan untuk Wudhu?

0
1871

Air mustakmal adalah air bekas wudhu atau bersuci.

 

Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan bersuci dengan air bekas bersuci untuk kedua kalinya.

Jumhur atau kebanyakan ulama berpendapat bahwa air mustakmal dalam mengangkat hadats, ia adalah air suci, akan tetapi tidak lagi menyucikan, ia tidak bisa mengangkat lagi hadats dan tidak bisa menghilangkan najis. Lihat Al-Mughni, 1:31 dan Al-Majmu‘, 1:150.

Alasan kenapa air mustakmal tidak bisa digunakan untuk bersuci lagi karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum mereka sangat butuh air ketika safar. Namun mereka tidak mengumpulkan air mustakmal untuk digunakan pada waktu yang lain.

Alasan ulama Syafiiyah yang disebutkan dalam Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii (1:39) adalah sebab air mustakmal tidak digunakan lagi untuk bersuci adalah air mustakmal tidak lagi digolongkan sebagai air mutlak. Konsekuensinya, air mustakmal tidak bisa menghilangkan hadats, juga tidak bisa menghilangkan najis.

Sedangkan yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sebagaimana dianut pula oleh Malikiyah dan Zhahiriyah bahwa air mustakmal masih bisa menghilangkan hadats besar dan hadats kecil, juga bisa menghilangkan najis. Ibnu Taimiyah mengatakan,

كل ما وقع عليه اسم الماء فهو طاهر طهور ، سواء كان مستعملا في طهر واجب ، أو مستحب أو غير مستحب

“Segala sesuatu yang masih kita sebut air, maka ia thahir (suci) dan thahur (menyucikan), baik air tersebut adalah bekas dari bersuci yang wajib, sunnah, atau yang bukan sunnah.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 19:236)

Hadits yang mendukung bahwa air mustakmal itu masih suci dan menyucikan adalah,

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلىالله عليه وسلم – – إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ – أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ  وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya (hakikat) air adalah suci dan menyucikan, tak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” (HR. Abu Daud, no. 66; Tirmidzi, no. 66; An-Nasai, 1:174; Ahmad, 17:190. Hadits ini sahih karena memiliki penguat atau syawahid. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:29)

Ibnul Mundzir dalam Al-Awsath fi As-Sunnan wa Al-Ijma’ wa Al-Ikhtilaf (1:288) berkata, “Para ulama sepakat bahwa tetesan yang tersisa pada anggota badan orang yang berwudhu atau mandi adalah suci, begitu pula tetesan pada pakaiannya juga suci. Hal ini yang menunjukkan masih sucinya air mustakmal. Kalau air tersebut suci, tidaklah ada masalah berwudhu dengan air tersebut. Karena yang menyatakan tidaklah boleh tidaklah punya pendukung dalam menyelisihi hal ini.”

Syaikh Ibnu Baz sendiri memilih pendapat, air mustakmal itu masih thahur (suci dan menyucikan). Seandainya ada yang bersuci dengan menggunakan air mustakmal itu sah. Namun lebih hati-hatinya tidak menggunakannya demi meninggalkan hal yang masih ragu-ragu.

Yang lebih hati-hati, tidak lagi menggunakan air mustakmal agar lepas dari perselisihan para ulama. Inilah yang lebih dipilih Syaikh Ibnu Baz rahimahullah.


 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Ruqoyyah.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here