Moga Ayah Bisa Meluangkan Waktu untuk Keluarga

3
4306

Moga ayah bisa meluangkan waktu untuk keluarga, tidak terus kerja melulu.

 

Awalnya Bekerja Demi Anak

Bukan hal tabu lagi jika seorang ayah sering pulang larut malam karena harus lembur kerja demi mendapat uang tambahan. Hal tersebut dilakukan semata-mata demi keluarga, demi anak yang semakin hari beranjak dewasa. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan anak juga akan semakin banyak.

Awalnya hanya butuh susu dan popok, kini berubah menjadi kebutuhan baju, uang jajan, biaya sekolah, dan lain sebagainya. Sayangnya di lain sisi, anak akan merasa terabaikan, ia merasa kesepian di rumah karena hanya ditemani oleh bunda. Canda tawa yang dulu selalu menemani malam sang anak, kini seolah sirna. Jelas saja anak merasa rindu pada ayahnya, dan ironisnya rasa rindu tersebut akan tergantikan dengan uang. Uang dan benda-benda lain yang anak inginkanlah yang bisa ayah berikan sebagai pengganti ayah di rumah. Padahal, kasih sayang seorang ayah tidak akan bisa tergantikan dengan apa pun termasuk uang.

Kan ada bundanya?

Mungkin itu terlintas di benak ayah. Jika memang anak cukup hanya dengan ibunya di rumah, maka pernahkah ayah melihat seorang anak yatim tidak merindukan kehadiran ayahnya?

Ingat, ayah dan bunda memiliki porsi masing-masing. Kasih sayang keduanya tidak bisa diwakilkan dan tidak bisa dibolak-balik.

 

Contoh Sunnah Nabi dalam Meluangkan Waktu untuk Keluarga

Pertama: Membangunkan pasangan untuk shalat malam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Semoga Allah merahmati seorang pria yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Daud, no. 1450; An-Nasai, no. 1610; Ahmad, 2:250. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 625).

 

Kedua: Rasul masih sempat menemani Aisyah mendapatkan hiburan

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمًا عَلَى بَابِ حُجْرَتِى ، وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ فِى الْمَسْجِدِ وَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَسْتُرُنِى بِرِدَائِهِ

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya (selendangnya) ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454 dan Muslim, no. 892, 17)

 

Ketiga: Rasul saling berlomba lari dengan Aisyah

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa,

أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ قَالَتْ فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَىَّ فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِى فَقَالَ « هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ ».

Ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud, no. 2578; Ibnu Majah, no. 1979; dan Ahmad, 6:264. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

 

Keempat: Sempatkan mencium anak

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqra’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqra’ berkata, ‘Aku punya sepuluh orang anak, tidak seorang pun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqra’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi.”(HR. Bukhari, no. 5997 dan Muslim, no. 2318)

Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

“Seorang arab badui datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Apakah kalian mencium anak laki-laki?’ Mereka menjawab, “Kami tidak mencium mereka”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu.’” (HR. Bukhari, no 5998 dan Muslim, no 2317)

 

Berusaha Membagi Waktu untuk Diri Sendiri, Keluarga, dan Ibadah

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata,

آخَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَ سَلْمَانَ ، وَأَبِى الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً . فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِى الدُّنْيَا . فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ ، فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا . فَقَالَ كُلْ . قَالَ فَإِنِّى صَائِمٌ . قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ . قَالَ فَأَكَلَ . فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ . قَالَ نَمْ . فَنَامَ ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ . فَقَالَ نَمْ . فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمِ الآنَ . فَصَلَّيَا ، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ . فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَ سَلْمَانُ»

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).

 

Cara Mudah Bagi Ayah untuk Membagi Waktu untuk Anak dan Keluarga

  1. Membuat rencana pekerjaan yang matang tiap harinya (to do list).
  2. Membiasakan disiplin diri agar semua aktivitas bisa terlaksana dan tujuan tercapai.
  3. Sebisa mungkin tidak membawa pulang pekerjaan kantor ke rumah.
  4. Tidak mengurus pekerjaan di hari libur.
  5. Sengaja meluangkan waktu untuk keluarga termasuk belajar agama bersama dan berlibur bersama.
  6. Istirahat yang cukup agar bisa konsentrasi dalam beraktivitas.
  7. Sesekali berangkat bersama si kecil ke sekolah untuk memantau perkembangan.
  8. Tetap berhubungan dengan keluarga saat sibuk kerja, saat ini bisa dengan telepon hingga video call.
  9. Jangan lupa, ayah juga harus terus belajar agama, moga ada waktu diluangkan untuk hal ini. Jangan hanya menggantungkan pada ilmu yang sudah ada, karena ilmu itu butuh diaktualkan terus menerus.
  10. Tentu saja semua ini bisa dijalankan dengan mudah kalau ayah rajin berdoa, meminta tolong kepada Allah, serta tawakal kepada-Nya dalam menjalankan semua aktivitas.

 

Yuk Segera Luangkan Waktu Ayah!

Jadi, para ayah sadarlah dan mulailah untuk meluangkan waktu. Jangan terlalu memaksankan diri untuk selalu bekerja hingga larut malam. Memang benar kebutuhan semakin membengkak, tetapi kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang paling berharga dan akan menjadi momen yang paling dirindukan oleh ayah maupun anak kelak. Jangan lupa pula luangkan waktu untuk menambah ilmu agama, termasuk pula untuk beribadah.

Semoga Allah memberi hidayah pada setiap ayah yang membaca tulisan ini.

 

Terinspirasi dari buku “Ayah Idaman” karya Citra Permatasari

Disusun di Darush Sholihin Gunungkidul, 14 Jumadil Akhir 1442 H, 27 Januari 2021

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Ruqoyyah.Com

3 COMMENTS

  1. Apalah daya, saya hanya pekerja biasa yang waktunya tidak menentu, kadang bisa pagi, sore atau malam. Tergantung kebutuhan customer. Bukan seperti orang-orang yang pergi normal ke kantor. Bukan pekerjaan yang enak. Apalagi, pada masa pandemi. Jargon “agile” Jadi senjata untuk kerja lebih keras untuk mengisi tenaga yang kosong. 24jam x 7.

    Sudah seperti kerja jadi budak kami ini. Semoga Allah Ta’ala dapat membebaskan hamba, baik secara finansial maupun waktu luang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here