Ayah, Uang Bukan Segalanya untuk Bahagia

0
3093

Ingatlah ayah! Selama ini banyak yang beranggapan bahwa uang bisa membuat siapa pun bahagia. Hal ini memang terbukti dari bagaimana uang bisa buat anak berhenti menangis setelah diberikan jajanan yang diinginkan. Ada uang pula, istri yang ingin perhiasan mahal bisa membelinya.  Namun, itukah hakikat bahagia sejati? Tidak, yang tadi disebutkan hanyalah kebahagiaan sesaat, bukan abadi. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun, kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051)

Baca juga: Letak Kebahagiaan adalah di Hati

Ingatlah ayah! Bahagia itu bukan pada harta yang dikumpulkan. Jika demikian, Firaun harusnya jadi orang yang paling berbahagia.

Ingatlah ayah! Bahagia itu bukan dilihat dari jabatan. Jika demikian, Haman yang menjadi menterinya Firaun harusnya yang paling berbahagia.

Ingat ayah! Hakikat bahagia yang abadi adalah jika kita mau taat kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Dalam bait syair dikatakan,

ولست أرى السعادة جمع مال : : : ولكن التقي هو السعيد

“Aku tidak menganggap kebahagiaan dari kumpulan harta. Akan tetapi, bahagia itu ada pada takwa.”

 

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab utama untuk bahagia adalah:

  1. Beriman dan beramal saleh
  2. Berbuat baik kepada makhluk dengan ucapan dan amalan, serta dengan berbagai perbuatan baik
  3. Menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh
  4. Mencurahkan pikiran untuk serius mengerjakan amalan hari ini, meninggalkan rasa khawatir tentang masa depan, dan menghilangkan kesedihan untuk hal yang telah berlalu
  5. Memperbanyak dzikir kepada Allah
  6. Memandang orang yang di bawah (yang lebih sengsara) dalam hal dunia
  7. Melupakan masa lalu yang jelek
  8. Tak perlu berkhayal yang jelek-jelek sehingga menjadi cemas, susah, sampai-sampai menderita penyakit jantung dan gangguan saraf
  9. Bersandar penuh dan tawakal kepada Allah
  10. Lebih banyak memikirkan nikmat yang banyak diberikan oleh Allah dibandingkan musibah

 

Semoga para ayah bisa memahami hal ini dan diberi taufik untuk memperbaiki ketakwaan. Hanya Allah yang memberi hidayah untuk meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

 

Baca juga: 

Antara Mencari Harta dengan Qana’ah dan Tamak

Narimo Ing Pandum (Qana’ah)

5 Manfaat Memiliki Sifat Qana’ah

Disusun di Darush Sholihin Gunungkidul, 10 Jumadil Akhir 1442 H, 21 Januari 2021

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Ruqoyyah.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here