Kisah Nabi Hud dan Kaum ‘Aad

2
393

Nama Nabi Hud adalah Hud bin Syalakh bin Arfakh-syad bin Sam bin Nuh. Sebagaimana diketahui dari kisah Nabi Nuh, Sam adalah kakek moyang orang Arab. Adapun Ham adalah kakek moyang orang Habsy dan Yafits adalah kakek moyang orang Romawi.

Kaum Nabi Hud adalah orang-orang Arab yang tinggal di Ahqaf (bukit-bukit tinggi). Pegunungan ini berada di Yaman antara ‘Uman dan Hadramaut pada suatu daerah pesisir pantai yang disebut dengan Asy-Syihr.

Nabi dari kalangan arab yaitu Hud, Shalih, Syu’aib, Nabi Muhammad. Ini dari keturunan Sam bin Nuh. Nabi Hud disebut yang pertama kali berbicara dengan bahasa arab.

Kaum Hud inilah kaum ‘Aad generasi pertama. Mereka tinggal di tenda-tenda yang ditopang tiang-tiang besar.

Tentang penyebutan kaum ‘Aad disebutkan dalam surah Al-Fajr,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ

 

Sifat kaum ‘Aad

Maksud dari kaum ‘Aad generasi pertama karena setelah banjir bandang, merekalah yang kembali menyembah berhala.

Sifat kaum ‘Aad:

  • keras
  • kafir
  • melampaui batas
  • congkak dalam beribadah pada berhala

 

Siksaan untuk kaum ‘Aad

  • Awalnya datang gersang dan keringnya tanah, akhirnya mereka memohon diturunkannya hujan.
  • Datanglah segumpal awan di langit, ternyata itu awan yang membawa azab.
  • Datanglah angin laksana kobaran api. Mereka diterpa angin selama tujuh malam delapan hari secara terus menerus.
  • Akhirnya mereka tumbang bagaikan pohon kurma yang telah kosong (lapuk), tak menyisakan satu orang pun.

Cerita siksaan pada kaum ‘Aad disebutkan dalam surah Al-Haqqah berikut ini.

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

 

Di Mana Nabi Hud Dikuburkan?

Nabi Hud dikuburkan di Yaman. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa Nabi Hud dikuburkan di Masjid Jami’ Damaskus.

 

Pelajaran Penting Ketika Melihat Angin Kencang

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ فَرَوْحُ اللَّهِ تَأْتِى بِالرَّحْمَةِ وَتَأْتِى بِالْعَذَابِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَلاَ تَسُبُّوهَا وَسَلُوا اللَّهَ خَيْرَهَا وَاسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا

Angin itu adalah bagian dari rahmat Allah. Rahmat Allah itu bisa datang membawa rahmat dan bisa datang membawa azab. Maka apabila kalian melihat angin, janganlah kalian memakinya. Mintalah kepada Allah kebaikannya dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya.” (HR. Abu Daud, no. 5097 dan Ibnu Majah, no. 3727. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Ketika melihat angin berhembus kencang, kita dianjurkan membaca doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

ALLOOHUMMA INNI AS-ALUKA KHOIROHAA WA KHOIRO MAA FIIHA WA KHOIRO MAA URSILAT BIH, WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI MAA FIIHA WA SYARRI MAA URSILAT BIH (Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikannya, kebaikan yang terkandung di dalamnya, dan kebaikan tujuan dikirimkannya angin tersebut. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya, kejelekan yang terkandung di dalamnya, dan kejelekan tujuan dikirimkannya angin tersebut.” (HR. Muslim, no. 899, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat mendung dan angin sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِى وَجْهِهِ . قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا ، رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ ، وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ . فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا ( هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ) »

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu girang. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.” Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah azab. Dan pernah suatu kaum diberi azab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat azab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” (HR. Bukhari, no. 4829 dan Muslim, no. 899)

 

Ringkasan Tentang Nabi Hud

Nama: Hud bin Syalakh bin Arfakh-syad bin Sam bin Nuh

Masa hidup: 2450 – 2320 sebelum masehi (umur: 130 tahun)

Diutus jadi Nabi: 2400 sebelum masehi (umur: 50 tahun)

Kaumnya: Kaum ‘Aad

Tempat diutus: Ahqaf (dekat Yaman)

Penyebutan dalam Al-Qur’an: 7 ayat

Jumlah anak: –

Yang menunjukkan kenabian Nabi Hud:

  1. Rajin bersyukur
  2. Mengajak kaumnya untuk bertauhid
  3. Ia dijauhkan dari maksiat kaumnya.

Tempat meninggal: Makkah

 

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

  1. Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
  2. Athlas Tarikh Al-Anbiya wa Ar-Rusul. Cetakan ke-13, Tahun 1438 H. Sami bin ‘Abdullah bin Ahmad Al-Maghluts. Penerbit  Obekan.
  3. Ringkasan Al-Bidayah wa An-Nihayah. Ibnu Katsir. Penerbit Insan Kamil.

 

Disusun oleh:

  1. Rumaysho Fathmah Tuasikal
  2. Ruwaifi’ Tuasikal

Dikoreksi ulang oleh:

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Ruqoyyah.Com

2 COMMENTS

  1. Bismillaah,
    ‘Afwan ustadz, yg kajian kisah2 nabi blm ada di channel youtube ya?
    Qadarullaah kami ktinggalan, ana nyari2 di channel rumaysho nda dapet.

    • Iya akan kami perbaiki, moga ada kelanjutannya di youtube. krn keterbatasan, hanya pada instagram dan facebook. Insya Allah besok Senin akan beralih di youtube.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here