Bintang Diciptakan untuk Tiga Tujuan Ini

0
1626

Mengenai surat Al Mulk ayat 5, ulama pakar tafsir–Qatadah As-Sadusiy–mengatakan,

إِنَّ اللهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ إِنَّمَا خَلَقَ هَذِهِ النُّجُوْمَ لِثَلاَثِ خِصَالٍ: خَلَقَهَا زِيْنَةً لِلسَّمَاءِ الدُّنْيَا، وَرُجُوْمًا لِلشَّيَاطِيْنِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَي بِهَا ؛ فَمَنْ يَتَأَوَّلُ مِنْهَا غَيْرَ ذَلِكَ، فَقَدْ قاَلَ بِرَأْيِهِ، وَأَخْطَأَ حَظُّهُ، وَأَضَاعَ نَصِيْبَهُ، وَتَكَلَّفَ مَا لاَ عِلْمَ لَهُ بِهِ.

Sesungguhnya Allah hanyalah menciptakan bintang untuk tiga tujuan:

  1. sebagai hiasan langit dunia,
  2. sebagai pelempar setan, dan
  3. sebagai petunjuk arah.

Barangsiapa yang meyakini fungsi bintang selain itu, maka ia berarti telah berkata-kata dengan pikirannya semata, ia telah mendapatkan nasib buruk, menyia-nyiakan agamanya (berkonsekuensi dikafirkan) dan telah menyusah-nyusahkan berbicara yang ia tidak memiliki ilmu sama sekali.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabariy dalam Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Ay Al-Qur’an, 23: 508, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawiy mengatakan bahwa sanadnya hasan. Lihat Tafsir Juz Tabaarok, Syaikh Musthafa Al ‘Adawiy, hal. 20, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1423 H)

Barangsiapa yang membebani dirinya selain tiga hal ini (seperti yang dimaksud Qatadah di atas), dalam artian dia menyimpulkan hukum-hukum yang menunjukkan pergerakan dan sinkronisasi bintang, bahwa itu semua menunjukkan peristiwa di bumi, maka dia telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang demikian karena kebanyakan klaim dan perkataan mereka mengenai hal ini tidak lain hanya asumsi dan praduga yang penuh kedustaan dan klaim yang batil. Seluruh bintang-bintang yang ada di langit dunia tidak menutup kemungkinan keberadaannya berbeda tinggi satu dengan lainnya, sehingga langit dunia dikhususkan dari yang lain dengan adanya hiasan bintang-bintang. Wallahu a’lam.

Alangkah indah syair yang dicantumkan oleh Imam Muhammad bin Ishaq di awal buku sirahnya untuk Zaid bin Amru bin Naufal terkait penciptaan langit, bumi, matahari, bulan, dll.

Di antara bintang yang dikenal adalah bintang Syi’ra seperti disebutkan dalam ayat,

وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعْرَىٰ

Dan bahwasanya Dialah yang Rabb (yang memiliki) bintang syi’ra.” (QS. An-Najm: 49)

 

Hikmah Diciptakannya Bintang

Hikmah pertama: Untuk melempar setan-setan yang akan mencuri berita langit. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al Mulk,

وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 5)

Setan mencuri berita langit dari para malaikat langit. Lalu ia akan meneruskannya pada tukang ramal. Akan tetapi, Allah senantiasa menjaga langit dengan percikan api yang lepas dari bintang, maka binasalah para pencuri berita langit tersebut. Apalagi ketika diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, langit terus dilindungi dengan percikan api. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا, وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 9-10). Berita langit yang setan tersebut curi sangat sedikit sekali.

Hikmah kedua: Sebagai penunjuk arah seperti rasi bintang yang menjadi penunjuk bagi nelayan di laut.

وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 16). Allah menjadikan bagi para musafir tanda-tanda yang mereka dapat gunakan sebagai petunjuk di bumi dan sebagai tanda-tanda di langit.

* Bintang sebagai tanda arah. Juga bintang sebagai tanda pergantian waktu atau pergantian musim.

Hikmah ketiga: Sebagai penerang dan penghias langit dunia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (QS. Al Mulk: 5)

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.” (QS. Ash-Shafaat: 6). Istilah kawkab adalah untuk bintang-bintang besar. Sedangkan nujum adalah istilah untuk bintang yang kecil maupun yang besar. (Disebutkan dalam Al-Furuq Al-Lughawiyyah, hlm. 301 oleh Al-‘Askari, dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 228868)

Baca Juga: Mau Tahu Hikmah Adanya Galaksi dan Pelangi?

Referensi:

  1. Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
  2. Ringkasan Al-Bidayah wa An-Nihayah. Ibnu Katsir. Penerbit Insan Kamil.
  3. Tulisan Rumaysho.Com

 

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Ruqoyyah.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here